Pages

RSS

Selamat datang di Cermin Sebuah Titik
Refleksi Sunyi
Sunyi tak selamanya sepi
Sendiri hanya 'tuk mengenali pribadi
Dyah Prabaningrum (D*pra)

Senin, 26 Maret 2012

Solusi untuk Naiknya BBM,ya, Bersyarat

Team LPIK IMM HAMKA Semarang

BERBAGAI SUMBER

Bulan April memang selalu penuh kejutan. Apalagi ada hari yang bernama April MOP. Kini tak hanya teman atau kerabat saja yang akan memberi kejutan, ternyata pemerintah yang notabene pengatur segala kebijakan juga ingin memberi kejutan kepada rakyat. Memang bukan barang baru lagi bila BBM naik tahun 1998 dan 2005 BBM juga pernah naik.

Namun saya tidak akan mengurai masa lalu, saya ingin sedikit berbicara kenapa BBM akan dinaikkan. Untuk menyelamatkan perekonomian negara dari defisit APBN. Tahun lalu, ketika pemerintah menyusun APBN 2012 diasumsikan harga minyak mentah Indonesia per barel USD 90 atau Rp 792.000 (berdasarkan kurs 1 USD = Rp 8.800) Satu barel sama dengan kira-kira 159 liter. Jadi ketika itu perkiraan harga minyak mentah Indonesia Rp 4.981 per liter. Itu harga minyak mentah. Dari minyak mentah untuk dapat dijadikan bensin premium dan untuk menyalurkannya sampai ke SPBU, diperlukan biaya yang dibutuhkan kira-kira Rp 3.019 per liter. Jelaslah bahwa ketika menyusun APBN 2012 diperkirakan harga pokok dan biaya distribusi bensin premium adalah Rp 8.000 per liter. Nah agar tidak memberatkan rakyat Indonesia, bensin premium dijual bukan dengan harga Rp 8.000, namun lebih murah, yaitu Rp 4.500 per liter.
Artinya untuk setiap liter ada selisih harga sebesar Rp 3.500 yang ditanggung Negara. Perkiraan ketika itu jumlah volume BBM Bersubsidi yang akan disalurkan adalah 40 juta kiloliter. Maka subsidi untuk BBM, Bahan Bakar Nabati dan LPG diperkirakan sekitar Rp 123 triliun. Itu belum termasuk subsidi listrik sekitar Rp 45 triliun. Sehingga total seluruh subsidi energi sekitar Rp 208 triliun. Dengan meningkatnya harga minyak mentah per barel dari USD 90 menjadi rata-rata USD 105 (meningkat 16,66 persen), bahkan mungkin masih bisa bergerak naik lebih tinggi, maka total subsidi energi itu jika tidak dilakukan perubahan harga BBM bisa menjadi lebih dari Rp 230 triliun setahun.
Kalau dipaksakan mendanai subsidi Rp 230 triliun dari belanja negara 2012 yang totalnya Rp 1,435 triliun akan defisit jika subsidi BBM dipertahankan mengingat naiknya harga minyak dunia. Maka, subsidi BBM diturunkan dan otomatis harga BBM naik. Lantas mengapa harga minyak bumi naik?

Tekanan pada harga minyak dunia yang menyebabkan minyak bumi naik, disebabkan oleh meningkatnya tekanan geopolitik di Selat Hormuz sejak awal tahun 2012. Kawasan tersebut merupakan lalu lintas utama distribusi minyak dunia yang mencapai sekitar 17 persen dari pasokan ke pasar global. Di bulan Februari 2012, Iran telah menghentikan ekspor minyak ke Perancis dan Inggris sebagai reaksi atas penjatuhan sanksi embargo minyak Iran yang akan diberlakukan bulan Juli 2012. Jika sudah begini, memang sulit untuk tidak menerima kenaikan harga BBM karena dengan adanya permasalahan ini akan timbul masalah yang polemik.

Namun, berfikir untuk menentukan langkah pemerintah selanjutnya setelah menaikkan harga BBM untuk meminimalisir penderitaan rakyat miskin akan lebih baik daripada sibuk beraudiensi untuk menekan demo anti kenaikan BBM. Berikut solusi yang mampu penulis hadirkan setelah beberapa kali mengikuti diskusi dan membaca referensi.

1. Kembalikan asset Negara dari koruptor

Menurut Andhi Nirwanto selaku Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Sepuluh sektor yang dianggap rawan korupsi itu diantaranya sektor pengadaan barang dan jasa, keuangan dan perbankan, pajak, penggunaan APBN-APBD, serta minyak dan gas. Itu adalah sarangnya, mari Kita musnahkan. Pengembalian kerugian negara dapat dilakukan dua cara, ligitasi (melalui peradilan) dan non litigasi (diluar peradilan). Cara kedua dinilai kurang ampuh untuk konstruk moral aparat di indonesia yang cenderung kompromistis. Meskipun lembaga yang memeriksa dana koruptor tersebut adalah lembaga semandiri Badan Pemeriksa Keuangan. Maka dilakukan cara yang pertama.

Pengembalian aset Negara dari tangan para koruptor melalui litigasi terbagi lagi atas 2 bagian : Instrumen hukum perdata dan instrumen hukum pidana. Instrumen hukum perdata jarang dilakukan, karena mekanismenya yang dianggap tidak secepat mekanisme instrumen hukum pidana mengingat aset negara pada tangan koruptor dikhawatirkan menguap. Instrumen hukum pidana dilakukan sebagai langkah pengembalian kerugian Negara melalui peradilan. Regulasi tersebut, sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi (UUPTPK). Pun, bukanlah buah khuldi (larangan), jika pengembalian kerugiaan negara dari tangan koruptor tersebut dilakukan secara bersamaan. Karena prosedur dan pemeriksanya juga berbeda. Litigasi oleh lembaga hukum, non litigasi oleh Badan Pemeriksa keuangan.

2. Pembatasan Kendaraan Bermotor (baik mobil maupun motor)

Populasi pengguna kendaraan bermotor begitu banyak. Tak bisa dipungkiri semua itu membuat konsumsi BBM meningkat. Belum ada penelitian yang menyatakan berapa liter/hari pemborosan BBM yang dilakukan karena kemacetan lalu lintas. Namun demikian, penghematan tetap harus dilakukan. Bila belum ada kesadaran dari masyarakat untuk berhemat, penghematan dapat dilakukan dengan cara menerapkan regulasi. Beberapa rekomendasi regulasi yang sebaiknya diterapkan yaitu pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor baik mobil maupun motor untuk setiap KK, penyulitan administrif untuk pembelian kendaraan bermotor missal: tidak diperkenankannya sistem kredit di Indonesia untuk pembelian kendaraan bermotor. Penambahan pajak untuk kendaraan bermotor terutama untuk mobil. Dengan adanya pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor maka sebaiknya pemerintah melakukan subsidi untuk angkutan umum. Sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan angkautan umum yang relatif lebih murah daripada menggunakan kendaraan pribadi.

3. Subsidi Angkutan Umum dan perbaikan infrastruktur

Dengan adanya pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor, pemerintah sebaiknya menyubsidi angkutan umum dan memperbaiki infrastruktur. Selain ditilik dari segi ekonomi, mengoptimalkan angkutan umum sehingga dapat membuka lapangan kerja, hal ini berperan dalam penghematan BBM. Ketika masyarakat telah nyaman memakai angkutan umum, maka dapat meminimalisir kemacetan yang berarti ikut menghemat BBM. Subsidi angkutan umum dan perbaikan infrastruktur sebagian dapat diambilkan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).


4. Menghimbau masyarakat agar menggunakan sepeda

Setidaknya dengan masyarakat mau menggunakan sepeda yang merupakan kendaraan yang menyehatkan, penggunaan BBM di Negara kita bisa terkurangi. Selain itu, polusi yang menjadi penyebab pemanasan global juga berkurang. Sehingga kita juga turut andil dalam menyelamatkan bumi ini dari masalah pemanasan global yang kini sudah mulai marak. Bersepeda juga dapat menjadi sarana olahraga kita sebelum beraktifitas dengan pekerjaan yang melelahkan dan merefresh otak sebelum menuntut ilmu.

5. Penelaahan kembali BLT

Selama ini BLT kurang tepat sasaran, sebaiknya pemerintah menelaah kembali apakah BLT tersebut masih pantas menjadi solusi. Bagaimana bila dikumpulkan untuk membangun usaha dan sebagian di serahkan kepada BPJS untuk dikelola dalam rangka menjamin kesehatan atau dialihfungsikan untuk biaya pendidikan?

6. Pembuatan Energi Alternatif

Jangan dikira kesejahteraan rakyat hanya tanggung jawab pemerintah. Kaum intelektual seharusnya juga ikut bertanggung jawab. Pembuatan energi alternatif seperti biodiesel dari buah nyamplung, dari minyak jelantah, dari pohon jarak, biosolar, biogas dan energi minyak dan gas lainnya yang murah biaya dan ramah lingkungan sehingga patut dikembangkan.

Dimana kaum terdidik dan tanggung jawab moral yang diemban?


Meminjam istilah Herbert Spencer : tujuan utama dari pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan. Solusi sudah banyak, kini waktunya bertindak. Semoga April pemerintah mampu mengambil keputusan secara bijak tidak merugikan masyarakat begitu pula pemerintah

Read More......

Selasa, 03 Januari 2012

BONEKA

Oleh Dyah Prabaningrum


Aku bertemu dengannya saat aku pulang kuliah dan menangis tersedu-sedu. Mungkin ia iba atau lebih tepatnya kasihan padaku. Semenjak saat itu ia menjadi dekat denganku. Ia selalu bersamaku, menemani hari-hariku, terkadang mengajariku tentang tugas-tugas yang begitu sulit. Dia begitu baik dan manis. . Entah karena cocok atau karena sesuatu hal yang lain ia mulai bercerita padaku, tentang kelasnya, tentang keluarganya, dan tentang teman-temannya. Ada si gendut yang tak pernah berhenti makan sebelum ia benar-benar merasa kenyang. Tentang si tikus yang tak pernah lupa membawa contekan saat ulangan. Tentang si kribo yang tak pernah lepas dari sikap optimisnya, dan tak kalah menariknya tentang cewek-cewek pengangumnya. Aku adalah pengagum dongeng masa kecil, jadi mendengar ceritanya adalah hal yang menyenangkan bagiku.
Dia dulu sering bercerita tentang si Gendut saat puasa. Saat puasa, si Gendut yang se-kos dengannya, mengumpulkan banyak makanan, dia kadang-kadang mengendap-endap ke tempat persembunyiaan makanan. Tapi ternyata ia tidak kuat menghabiskan makanan yang ia kumpulkan sendirian, katanya ia sering menyimpan makanan itu dengan rencana dimakan lagi sehabis tarawih. Yang terjadi padanya jangankan ia bertahan sampai tarawih, dengan perut kekenyangan setelah perutnya membuncit dan shalat magrib, ia ambruk di tempat tidur, makanan itupun telah membusuk ketika waktu sahur, hampir setiap saat begitu. Hingga akhirnya dia mempunyai ide yang menurutnya cemerlang, kembali lagi ia menumpuk makanannya, kali ini bukan makanan basah, tapi makanan kering. Sehari-dua hari makanan kering itu aman, tetapi lama kelamaan dengan terpaksa ia harus memberi riski pada semut-semut nakal.
Kakakku juga tak lupa bercerita tentang si tikus dan si kribo. Seperti kisah dalam “Tom and Jerry,” si Jerry yang selalu beruntung . Ia sering membuat kode-kode rahasia yang hanya diketahui oleh kakakku, si tikus, dan si kribo. Dari pegang kepala yang berarti “aiu”, pegang rambut yang berarti “ciau”, atau pegang jidat yang berarti “taucime”. Dia juga mahir membuat rumus matematika dengan bahasa tubuhnya yang kata kakakku karena bahasa tubuhnya, kakakku langsung hafal rumus-rumus itu. Si tikus selalu mendapat nilai yang memuaskan.
Kakak juga bercerita tentang si kribo, si kribo yang selalu optimis. Si Kribo tak suka bersalaman dengan orang-orang penting di momen-momen seminar nasional. Si Kribo selalu bilang besok saya yang akan menjadi orang penting seperti dia, jadi seperti patih Gajah Mada yang terkenal, ia tidak akan bersalaman dengan orang penting, sebelum ia menjadi orang penting.
Kakakku juga sering bercerita tentang banyak wanita yang didekatnya. Dari ceritanya aku bisa membayangkan betapa sexy dan cantik wanita-wanita disekelilingnya. Tapi kali ini kakakku lain, ia suka sekali membawa boneka-boneka berbie ke kosku dan tidak lagi suka bercerita tentang teman-temannya. Dari yang berambut pirang sampai yang berambut hitam. Dari yang dibuat dari plastik putih sampai yang hitam dan kuning. Padahal aku telah bilang pada kakak, bahwa aku lebih suka boneka katak, boneka beruang, boneka bebek, atau boneka lumba-lumba untuk dibawa ke kosku. Karena bagiku boneka katak, boneka bebek, boneka beruang, dan boneka lumba-lumba lebih menarik, lebih unik, dan lebih lucu dari boneka berbie. Tapi kakak tak peduli, berkali-kali kakak membawakan boneka berbie itu untukku. Kadang aku bermain boneka itu bersama kakak. Boneka-boneka itu berambut panjang. Kakak paling suka mengelus-elus rambutnya. Aku hanya menatap kakak yang seolah sedang membuat lebih rapi bonekanya. Boneka itu diam saja. Kakak juga sering menggerakkan tangannya tapi boneka itu tetap tersenyum, sama seperti tadi. Boneka-boneka itu begitu manis. Aku terkesan dengan kemanisan mereka, kadang aku ingin seperti mereka. Oh ya sehabis aku dan kakak bermain dengan boneka itu, kakak selalu memintanya kembali, katanya minggu depan ia akan menggantinya dengan yang lebih bagus.
Ada satu boneka, dia tidak begitu cantik, tapi aku suka. Dengan mesin yang ada dalam dirinya, boneka ini bisa bergerak. Yang paling aku suka adalah boneka ini bergerak menjauh bila ia tersentuh di bagian pinggul, karena di pinggulnya ada tombol untuk menggerakkannya. Boneka ini juga bisa bergerak mendekat kalau ada suara tepuk tangan disekitarnya, katanya boneka ini peka dengan gelombang bunyi. Aku sangat menyukai boneka ini, ia bukan berbie tapi ia unik. Dan kata kakak ia akan menggantinya 3 hari lagi. Aku menangis, aku berkata pada kakak,”Adik sayang dengan boneka ini, kenapa kakak mau mengganti?”, tapi kakak cuek dengan rasaku walau tetap menjawab,”Kakak bosan.”
Aku tambah menangis tak karuan,”Kakak jahat, itu boneka kakak yang paling adik suka.”
Pikiran nakal kekanak-kanakanku mulai muncul. Aku menyembunyikan boneka itu di kolong meja agar kakak tak mengambil boneka itu untuk di bawa pulang. Tapi kakak sungguh berpengalaman, kakak tahu dan benarlah tiga hari kemudian kakak membawa boneka baru.
Aku mengutuki kakak. Aku sebal! Kakak jahat, walaupun itu boneka, tapi tak seharusnya kakak mencampakkan boneka-boneka itu. Aku mulai membeci kakak, tapi aku tak mungkin bisa membenci seutuhnya, karena aku masih ingin disampingnya untuk mendengarkan cerita dan menemaninya bermain. Saat aku, boneka, dan kakak bermain bersama, pasti hanya boneka itu yang menyita perhatian kakak. Kadang aku iri, aku ingin seperti boneka itu yang mungkin malah benar-benar disayangi kakak. Aku ingin seperti boneka itu cantik dan pendiam, juga tidak banyak protes. Boneka itu memang hebat. Dia selalu tersenyum didepanku dan didepan kakak. Matanya selalu berbinar, kecantikannya selalu terpancar.
“Ah mungkin itu memang disain dari pabriknya,’’batinku.
Boneka baru kakak kali ini tidak lebih putih dari kemarin, matanya bisa bergerak-gerak lucu sekali. Benar-benar putih dengan mata yang bisa berkedap-kedip. Entahlah karena kesebalanku dengan kakak aku mulai tak mau diajak bermain boneka lagi. Tapi tetap saja kakak selalu datang ke tempatku dengan membawa bonekanya.
Hebat, tidak seperti biasanya kakak betah dengan bonekanya. Kali ini entah telah berapa pekan kakak tidak mengganti bonekanya. Sepertinya kakak sangat jatuh hati dengan boneka itu dan tidak ingin menggantinya. Kebencianku mulai berkurang. Aku mau diajak main bersama bonekanya lagi.
Kadang boneka itu di letakkan agak lama di kosku, Katanya untuk menemaniku. Ku mulai suka dengan bonekanya, ku berharap kakak tidak menggantinya lagi. Aku sering menyampaikan keluh kesalku padanya, seperti boneka pada umumnya ia terus tersenyum, mungkin mulutnya memang telah dirancang untuk selalu tersenyum. Dia hanya tinggal di kosku satu malam, karena setelah itu kakak mengambilnya dariku.
Aneh sejak saat itu kakak jarang menghubungiku. Dia mulai jarang ke kosku. Dia mulai jarang mengajakku bermain dengan boneka lagi.
“Ah..mungkin kakak sudah besar, kakak sudah bosan main dengan boneka.”pikirku.
Tapi aku mulai risau, kakak tak lagi menemuiku, bahkan tak lagi menelponku. Aku menghubunginya beberapa kali tetapi selalu non-aktif. Aku ketakutan, takut terjadi sesuatu dengan kakak. Aku mulai kesepian, merindukan kakak dan boneka yang kakak bawa.
Sungguh kakak bukan banci walau ia suka bermain boneka. Kakak orang baik. Kakak sebenarnya sangat pengasih. Tapi kakak hanya pernah bercerita tentang ibunya. Katanya dulu, dia sangat mencintai mobil-mobilan dan sama sekali tidak tertarik dengan boneka. Begitu pula papanya. Papanya juga penggemar mobil-mobilan. Papanya memiliki mobil-mobilan dengan gaya-gaya terbaru. Tapi suatu hari papanya tidak membeli lagi mobil terbaru, katanya papa tak punya uang lagi. Dia dan mamanya menangis. Yang lebih menyakitkan lagi mobil-mobilan dan mainan mama yang penuh kerlap kemewahan harus dijual. Sebulan dua-bulan, mama tak lagi suka mengoleksi mainan pengisi peti kecilnya, mamanya lebih suka menyendiri dan melamun. Hingga suatu saat mamanya harus pergi karena tertarik untuk bermain mobil-mobilan dengan orang yang tak pernah dikenalnya. Mama menitipkannya pada papa, papa yang merasa sebagai seorang lelaki yang gagal, yang tidak lagi mempunyai mobil-mobilan memperbolehkan mama pergi. Sejak saat itu papanya dan dia suka boneka. Katanya boneka lebih cantik dan tidak rewel, boneka juga bisa dibeli di mana saja, ada yang di mall, ada yang di pasar, tetapi terkadang ada juga boneka yang gratis. Ah..rasanya yang terakhir aku tak percaya. Di dunia bukankah semua hal telah menjadi komersil? Bahkan yang bukan benda saja telah dikomersilkan? Rasanya tak percaya bahwa ada boneka yang gratis, pasti aku akan mengambilnya lebih dari selusin.
Kakak…sebenarnya kamu sedang dimana? Dengan siapa? Sedang berbuat apa? Aku benar-benar merindukannya. Aku merindukan bermain-main bersamanya dan di dongenginya. Aku rindu di dongengi dia tentang kerajaan sihir, dimana raja sihir mampu menyihir benda mati menjadi benda hidup dan menyihir benda hidup menjadi benda mati. Suatu kali dia mendongengiku manusia yang disihir oleh raja sihir menjadi batu, karena ia selalu diam ketika ditanya. Dia juga pernah bercerita tentang manusia yang disihir menjadi petir, karena suaranya mengganggu tidur sang raja. Aku sadari aku benar-benar merindukannya.
Akhirnya ku beranikan diri ke kosnya. Seperti dalam cerita sihir, ku lihat boneka di ruang tamunya itu bergerak-gerak, bergoyang-goyang bahkan bisa berbicara. Aku ketakutan sekaligus tahu mengapa kakak tak pernah mengunjungiku lagi. Melihatku boneka itu kembali diam. Aku marah, merasa selama ini telah dibohongi sekaligus beberapa hari ini dilupakan. Tapi kakakku segera mencegahku pergi sambil berbisik,”Jangan takut, itu boneka biasa yang ada di mana-mana.” Aku tak menjawab apa-apa dan ia berkata lagi padaku,”Kadang aku bosan dengan boneka itu, bagaimana kalau kapan-kapan kita bermain bersama, tanpa boneka! Dan hanya kita berdua?”
Keningku berkerut, aku tetap diam, dan seolah terdengar mantra di sebrang sana yanaku uaiauakulaika ana yuhibu anta mantra yang mampu mengubah seseorang menjadi benda mati. BONEKA.

Read More......

Tanya

Oleh Dyah Prabaningrum


Aku melihat orang-orang disekeliligku terkotak-kotak, mereka melihat satu sisi dari hidupnya, focus dan mencari belahan yang pas dengan jiwanya, mereka mendapatkan bahagia, bisa bercanda dan bercerita, karena mereka dalam kotak yang sama, dalam kepatuhan hidup yang mereka rasai itu adalah ketentuan, bahkan tak jarang dari mereka menganggapnya keteraturan semesta. Tapi berbeda dengan aku, aku berada dalam benang yang kusut, seolah benang itu membuat suatu alur sendiri, ia tidak menerima, kadang mencipta, tak mengikuti alur, dan bila ku amati ia membentuk bulatan dan semacam gumpalan yang perlu ku pecahkan.
Seperti seorang Socrates ku tanya pada setiap orang yang ku kenal, ibuku, bapakkku, nenekku, dan kakakku tentang gumpalan itu, gumpalan dan lingkaran yang ada di otakku dan melilit kepala, mereka tak bodoh, tapi mereka diam. Ku tanya pada ibuku,”Ibu, apa manusia, alam, dan seisinya diciptakan oleh Tuhan karena Tuhan merasa kesepian?”. Ibuku seperti biasa mengeleng-geleng kepalanya. Ku tanya pada kakak, kakak hanya diam dan tak mau bicara. Ku tanya pada ayah, ayah malah membunuh pertanyaanku.
“Husst…nggak boleh tanya yang aneh-aneh.”kata ayah waktu itu.
Ku berbalik kepada ibu, ku tanya padanya,”Bu, kenapa ayah membunuh sebagian dari diriku, kenapa aku tidak boleh bertanya yang aneh? Apa pertanyaan tentang Tuhan itu aneh? Padahal kata guru ngajiku aku harus mengenal Tuhan agar hidupku bahagia, tapi saat aku tanya tentang hakikat penciptaanku, kenapa aku dianggap aneh?”
Sambil tersenyum ibuku menjawab,”Ya sudah tanya guru ngajimu saja.”
Bibirku manyun,”Nggak mungkin, mereka bakal mengatakan aku murtad, bisa juga kafir. Ibu, apa orang dewasa itu tidak konsisten? Menyuruh belajar tapi mematikan cara paling efektif dari belajar.”
Ibuku hanya geleng-geleng kepala dan aku datang ke tempat nenek.
“Nenek, boleh tidak aku bertanya? Apakah Tuhan itu kesepian lanta menciptakan kita?”tanyaku polos.
Nenekku malah tertawa,”Kamu lucu, Tuhan itu maha segalanya, bukan karena kesepian lantas ia menciptakanmu, tapi justru karena Ia maha, sehingga kita ini ada.”
Aku yang baru umur 8 tahun dibuat bingung oleh kata-kata nenek.
“Kita ini ada karena kemahaannya, apakah itu berarti Tuhan sombong, ia ingin menunjukkan bahwa Ia maha, maka ia ciptakan kita dan Dia tunjukkan pada ciptaannya.”
Kali ini bukan nenek yang menjawab, tapi ibu yang menyahut,” Kamu tak perlu bertanya yang aneh-aneh, tapi bila itu pilihanmu, carilah organisasi muhammadiyah, tanyanyalah pada anggotanya, ibu, ayah, nenek, dan kakakmu, nggak bisa jawab pertanyaan itu.”
Ku tatap mata ibu,”Ibu apa itu muhammadiyah? Apa dia Islam? Aku mau ikut Muhammadiyah saja, aku mau ketemu muhammadiyah,tapi ibu, apa itu organisasi, apa itu anggota?”
Ibuku hanya gedeg-gedeg,”Sudah, sudah, simpan pertanyaanmu sampai besar, ia akan terjawab oleh waktu.”
Aku berbalik menatap nenek,”Nenek, maukah nenek menjawab pertanyaanku?”
Kali ini bliau tersenyum dan menggeleng.
***
Ku lalui hari-hariku dengan tanya dan gumpalan besar yang semakin membesar seolah gumpalan dan lingkaran itu hidup rusuh dalam otakku, dalam benakku. Hingga suatu saat ada pelajaran mengarang di kelasku. Itu adalah pelajaran yang paling ku suka, karena aku pasti akan mendapatkan nilai tertinggi dari yang lain dan di dalamnya aku bebas bertanya. Ku tulis karangan itu pelan-pelan, lebih pelan dari rasa yang membuncah untuk mengetahui setiap tanya dalam hati dan jiwaku.
MUHAMMADIYAH
Tuhan aku bertanya tentangMu dan semua orang hanya menjawabnya bahwa Kau ada, Kau maha, dan Kau penciptaku. Tapi tanyaku terhenti, semakin lirih, saat ku tanya kenapa aku harus tercipta, kata guru agama, agar aku beribadah padaMu, tapi kata otakku, agar Engkau tak kesepian, tapi kata nenekku, karna Kau maha aku jadi ada. Lantas kata ibuku, aku harus mencari suatu organisasi yang tak ku tahu maknanya, seperti judul dalam karangan saja, namanya mirip dengan nama Nabiku dan diriku. , Muhammad dan Dyah… Namanya Muhammadiyah…lucu ya? Tapi nama itu tak ada di kamus yang dimiliki kakakku, yang aku yakini pasti Muhammadiyah itu akan menjadi milikku, bukankah Tuhan maha tahu, hingga ia menciptakan muhammadiyah untukku walau aku masih kecil atau jangan-jangan Muhammadiyah tercipta jauh sebelum ayah ibuku bertemu. Tapi Tuhan, aku merasa ada yang janggal Tuhan, kata ibuku muhammadiyah, bukan muhammadyah…apa berarti itu aku tak berjodoh dengannya? Aku ingin berjodoh dengannya. Aku ingin bertanya kenapa kau ciptakan aku padanya. Pertemukan aku dengannya, aku ingin bertemu pangeranku Muhammadiyah Tuhan, aku sayang dia, karena kata ibuku dia akan membiarkanku bertanya. Aku akan banyak bertanya padanya, aku akan menjaganya. Muhammadiyah…bagaimana mukamu? Apakah kau setampan Romeo, atau dia semanis pangeran yang membangunkan putri tidur, atau apakah dia sebijak nabiku, ataukah mungkin ia sepeti nabi Yusuf yang sangat memesona. Ah… aku ingin berjodoh dengannya agar aku bisa banyak bertanya padanya.
Bel berbunyi dan aku menumpuk karanganku terindah untuk pangeranku yang belum pernah kutemui” Muhammadiyah.” Dan sekarang aku merasa aku harus lebih memendam tanyaku untuk pangeranku”Muhammadiyah.”
Di umur sepuluh tahun aku kecewa, karena ku tahu ternyata Muhammadiyah bukan orang dan ternyata nama Organisasi Muhammadiyah itu bukan kepanjangan Muhammadiyah, bukan seperti nama kepanjanganku. Lebih kecewanya lagi ketika ku tanya siapa orang Muhammadiyah yang ada di desaku? Dan kata ibuku tak ada. Maka aku mulai bertanya yang aneh-aneh lagi,”Ibu, kalau Allah itu maha mampukah allah membunuh dirinya sendiri, dan menjadi mati?”
“Kamu tu ya bandel banget! Udah besok gedhe masuk muhammadiyah saja.”
Aku juga tanya kepada guruku, guruku malah melaporkan aku pada ayahku. Aku dimarahi, sehingga aku tahu di dunia ini aku hanya sendiri, nggak ada yang menemani dilingkaran ini. Aku menjadi lebih suka menulis. Ku tulis setiap tanyaku, kertas dan bolpein tak pernah memarahiku, tapi ia juga tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku bosan dengan barang-barang yang bisu, kata orang bijak buku lebih banyak bicara dengan tintanya. Ku cari buku-buku di rak ibuku yang sudah cukup berdebu dan diletakkan di gudang belakang. Ku temkan buku tentang Filosofi Ketuhanan, tapi kata-kata di dalamnya semua asing bagiku. Aku menangis, kenapa aku terlalu bodoh? Kenapa aku tak tahu apa-apa yang ku baca.
Aku pun mulai merenung, ada satu nama yang ku ingat yaitu Socrates. Nama yang asing dan aku kembali lagi bertanya pada nenek, karena ku takut mengganggu ibu.
“Nenek mau nggak nenek bercerita untukku?”
Saat itu aku yakin nenek bisa bercerita tentang Socrates karena dulu nenek pernah bercerita ia selalu menjadi bintang kelas, ia akan malu bila punya cucu yang bodoh, maka ia menyuruhku untuk belajar agar tidak bodoh, atau raporku tak akan diambil.
“Mau cerita apa? Kancil nyuri timun?”tanya nenek,
“Enggak, bosan, masak udah gede kancil nyolong timun terus!”
“Ya udah, Pak Tani yang dicuri Timunnya?” Nenekku menggoda.
“Ah..nenek, aku penginnya cerita tentang Socrates.”
Nenek kaget,”Lho tahu dari mana kamu?”
“Kalau nenek bilang nggak mau punya cucu bodoh, aku nggak mau punya nenek b tittttttt.”
Nenekku mencubit hidungku karena aku nakal.
“Socretes itu…..”mata nenek mengambang.
“Socrates itu adalah filsuf Yunani, ia hobi sekali bertanya hingga ia dianggap gila. Tapi setelah ia mati pemikirannya dia dibukukan oleh muridnya Plato dan hingga kini namanya terkenang.”
“Apa aku seperti Socrates?”
“Ha…hahaahahha.”nenekku tertawa.
“Hust…jangan keras-keras nek.”
Nenek memandangku dan tersenyum, lantas menggangguk.
“Aku nggak mau kaya Socrtes!”
“Lho kenapa?”
“Karena ia dikenang setelah mati!”
“Hmmm…”nenekku bergumam
***
Kisah itu sudah lama ku tinggalkan. Pemikiranku bertambah liar ketika ku masuki bangku kuliah, aku semakin gencar bertanya. Dalam doaku ku ingat nama Muhammadiyah, dan selang beberapa bulan aku bertemu dengan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah,”IMM” akupun berniat untuk tinggal di asramanya. Di situ ku temukan anugrah yang luar biasa dalam hidupku. Bertemu dengan orang-orang yang gemar bertanya tapi juga tak luput menjawab tanya.
Hari-hariku diisi rapat dan diskusi. Entah diskusi keTuhanan, fiqih, maupun keilmuan. Aku juga belajar tentang kehidupan di sini. Di tempat ini ku temukan banyak ladang pengetahuan. Bahkan kadang untuk hal yang paling kecil ku diskusikan seperti misalnya makna kata munafik, bagaimana asal-muasalnya dan bagaimana cirri-ciri orang munafik. Semuanya terangkum dalam sejarah Islam, pelan-pelan ku rubah pola pikirku, ku coba benahi sikapku yang tak karuan.
Tidak cuma itu, aku temukan keluarga baru disini, keluarga yang begitu baik denganku, yang mendampingi prosesku, yang sangat ingin ku abadikan lewat tulisan, tapi seperti eloknya sebuah jalan, tak akan menantang dan enak untuk track-trackan bila tak ada tikungan, kadang tanyakupun dianggap nge-test, padahal tak sekalipun aku ingin mengetestnya.
Ku bertanya tentang sesuatu yang mudah terucap tapi sulit untuk dilakukan. Ku bertanya tentang ketulusan hidup, apa artinya, dan bagaimana kisah yang menyejarah yang berasal dari ketulusan?
Temanku memandangku, entah karena jenuh dengan tanyaku, atau ia tak suka ku bertanya seperti itu. Entah kenapa dia tiba-tiba sensitif.


“Kamu nge-test aku?”tanya padaku.
“Nggak!” jawabku.
“Aku nggak yakin ini pertanyaan murni.”
“Aku memang tak paham tentang konsep tulus.”jawabku.
Entah apa yang dia pikirkan, tapi aku benar-benar tak paham dengan perubahan sikapnya.

“Ya udah kalau nggak mau jawab, nggak uah sewot dum.”kataku.
“Jangan-jangan selama ini kamu nge-test aku semuanya, kamu bertanya padahal kamu udah tahu semua jawabannya.”
“Kok kamu jadi sensi si, biasa aja kali.”kataku.
“Kamu berani bersumpah, kalau selama ini kamu nggak punya pengetahuan apapun atas apa yang kamu tanya?”
“Kamu tu lagi kenapa si!”kataku emosi.
“Cepet! katakan saja.”
“Nggak ada pengetahuan nol untuk sebuah pertanyaan non!”
Dia diam, dan aku takut, aku akan kehilangan teman diskusi yang paling mngasyikkan.
Ku ucapkan pelan padanya,”Dari dulu banyak filsof yang menginginkan sebuah pertanyaan murni, pengetahuan nol, Descartes, Karl Popper, dan Geertz menginginkan itu, tapi nyatanya? Edward Said membuktikan bahwa intelektualisme hanyalah repetisi, Seorang Psikoanalis Prancis, Jacques Lacan menyatakan: tidak ada subjek yang betul-betul mandiri, bahkan novelis Ayu Utami pernah mengutarakan: ilmu pengetahuan manusia bisa ditularkan lewat darah, gnosis sanguinis. Itu berarti tak ada pengetahuan nol, begitu pula pertanyaan murni. Mau lihat buktinya? Daftar pustaka, footnotes, bahkan sebelum bertanya tentang hal diluar dirinya ia lebih dulu bertanya pada dirinya. Dan tak ada sekalipun maksudku nge-test kamu, aku hanya ingin memperdalam ilmuku, menambah wawasanku. Jangan marah lagi ya…”kataku cukup lembut.
TUT..TUT..TUT….
Telepon terputus. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya, kali ini mungkin aku harus diam sejenak, tak bertanya dulu, hingga keadaan membaik. Doaku dalam hati,”Tuhan…ku tahu hasrat ingin tahu hanya bisa terpenuhi dengan ilmu dan pengetahuan, maka jangan Kau izinkan aku berhenti membaca, berhenti belajar, ku mohon Tuhan.”
Ku lihat sekitarku, seolah bonekaku bicara,”Dyah..sekarang kau tak sendirian di lingkaran dan gumpalan itu, kamu punya teman, dan jagalah baik-baik keluarga barumu.”
Ku dekati bonekaku,”Tapi dia diam, apa dia akan terus jadi temanku di lingkaran dan gumpalan ini?”
Mata boneka itu berkata lagi, lagi, dan lagi, sekarang aku berdiskusi dengannya, dengan bonekaku. ^_^

Read More......