Pages

RSS

Selamat datang di Cermin Sebuah Titik
Refleksi Sunyi
Sunyi tak selamanya sepi
Sendiri hanya 'tuk mengenali pribadi
Dyah Prabaningrum (D*pra)

Selasa, 07 Mei 2013

Wanita: Pemberdaya

Suatu kali ada seorang mahasiswa yang berbincang dengan saya, katanya,”Dia melihat kampus seperti melihat pertunjukan model.” Kata-kata itu masih cukup lekat diingatan saya. Kadang kala saya berfikir,”Tempat terbaik bagi industri bermain perang adalah tubuh dan maindset  wanita.” Lewat media, industri mengkonstruk bagaimana seharusnya wanita agar menjadi seorang yang dipuja. Berkulit cerah, berpenampilan menarik, berasesoris banyak, berparfum mewah, dan berbadan indah. Oleh karena itu, dapat kita lihat berapa banyak katalog yang berkaitan dengan aksesoris wanita, betapa genjarnya promosi make-up di media, dan betapa banyaknya brosur-brosur alat pelangsing tubuh dan obat-obatan untuk menunjang kecantikan wanita beredar. Tentu saja berpenampilan menarik tidaklah keliru karena penampilan yang menarik akan membuat seseorang nyaman berada di dalam forum yang sama, tetapi perlu dikritisi apabila penampilan yang menarik itu tak ditunjang kapasitas berfikir yang mewadai.
Wollstonecraft seorang feminis liberal menggagas wanita yang ideal adalah wanita yang dapat diharapkan untuk menginspirasi kerja produktif. Dengan sinisnya, ia mengungkapkan bahwa seorang wanita yang hanya menata dirinya-dalam hal ini fisik semata- seperti anggota ras bersayap, burung yang disimpan di dalam sangkar yang tidak mempunyai pekerjaan yang dilakukan selain memamerkan sayapnya, berjalan dengan keanggunan palsu dari tonggak satu ke tonggak lain. Mengkritisi pernyataan Wollstonecraft, saya cukup setuju dengan pernyataannya bahwa wanita sebaiknya mengispirasi kerja produktif. Kerja Produktif tentu saja bukan semata-mata kerja yang menghasilkan material tetapi juga kerja sosial yang membangkitkan semangat sesama untuk menjadi lebih baik dari segi berfikir maupun bertindak.
Pada akhirnya kebutuhan wanita bukanlah dipuja oleh banyak pria namun ia melahirkan genrasi yang tangguh pembentuk bangsa. Dari rahimnya putra-putri harapan bangsa akan lahir.Wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak. Tempat yang strategis untuk membuat sebuah peradaban. Dari penalaran, pemahaman, pengetahuan, dan juga tindakannya wanita akan lebih banyak menyalurkan intelegensi dan pilihan tindakan kepada putra-putri mereka. Singkatnya wanita sebagai media pertama yang nantinya akan membentuk karakteristik dan kemampuan nalar seseorang. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas berfikir dalam rangka mempersiapkan generasi selanjutnya, sebaiknya mulai menjadi prioritas ketimbang peningkatan penampilan meskipun tidak dinafikkan bahwa penampilan kadang kala menjadi sebuah cermin kreativitas. Dengan peningkatan kapasitas berfikir, diharapkan peranan wanita untuk memajukan bangsa dan melahirkan generasi pembaharu yang membuat bangsa ini lebih baik meningkat. Dengan demikian, wanita akan mampu menjadi pemberdaya pribadi maupun sosial. Perlu diingat bahwa wanita yang mensejarah seperti Cleopatra, Khatijah, Aisyah, Fatimah, Golda Meir, Indira Gandhi, Margaret Thatcer, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Ny. Inggit, dan R.A. Kartini bukan karena “wah”nya peampilan fisik semata.

Read More......

Rabu, 05 Desember 2012

teruntukmu yang (mungkin) terluka

untuk kakakku yang paling aku sayangi dan hormati,

kakakku tersayang, aku tak pernah tahu yang sesunggunya terjadi dalam hidup dan hatimu. Yang aku tahu, ketika kita akan berpisah, kau pernah tanyakan padaku,"apakah aku akan meninggalkanmu?" Kakak, maafkan adikmu yang tak tahu diri ini dan berkata yang tak layak padamu.

Iya kakak, baik aku maupun kamu terlalu membingungkan untuk di telaah. Kak, aku cuma takut ketika ku berkata,"Tidak, aku akan menunggumu," ternyata kau tak pernah sama sekali menyanyangiku. Maafkan aku kakak, karena bila aku telah menetapkan dan menjajikan sesuatu sulit sekali untuk aku langgar. Aku takut kau tidak menyayangi aku dan hanya akan memandang rendah aku. Akan tetapi, aku tidak pernah mau menyakitimu.

Kakak, maafkan aku yang banyak membuang waktumu. Kak, setiap katamu selalu ku ingat,"Hati2 dalam segala hal." Aku juga ingat bagaimana kamu menenangkan aku,, kamu jarang sekali menyalahkan aku, kamu hanya akan bilang," aku keliru, aku lupa, dan sebagainya."

Kak bila suatu saat kamu memang jodohku, ku yakin kita akan bersatu, insya Allah diwaktu yang tepat itu aku akan telah dididik alam untuk menjadi dewasa, untuk menjadi bijaksana,,insya Allah kak.. Tapi bila kita tak berjodoh,, insya Allah kita akan diperuntukkan oleh pasangan terbaik kita masing2, insya Allah aku akan menghormati pasanganku dan tidak mengulangi banyak kesalahanku yang dahulu,  aku akan mencoba ingat bagaimana dengan lembutnya kau menasehatiku,,hingga  akan ada beberapa kesopanan yang ku pakai hasil dari belajar padamu..

Kakakku, salam hormatku untukmu,, dimanapun kamu berada semoga Allah bersamamu,,, jaga dirimu baik2..

dari 

Adikmu...

Read More......

Minggu, 07 Oktober 2012

sinergitas

oleh Dyah Prabaningrum

daun tak pernah meminta embun tuk berwarna
bulan tak pernah meminta bintang tuk tinggal
dan rasa tak pernah meminta ucapan terima kasih
meski kadang keliru memakna
seperti ketunggalan yang tak boleh dimakna sepi
Esa adalah bukti yang menyisip adalah keagungan
harmonisasi atas luka dan bingkisan rindu yang tertahan
dan malam adalah hadiah terindah menemunya
pada munajat dalam ungkap syukur tak berkesudahan

Read More......